Bahasa merupakan suatu sistem
komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat
arbiter. Bahasa sebagai alat komunikasi bukan
hanya melalui lisan, namun dapat pula melalui tulisan. Berkomunikasi secara
lisan lebih mudah daripada berkomunikasi melalui tulisan. Hal ini dikarenakan
setiap orang dapat memahami maksud yang ingin disampaikan pembicara melalui
nada bicara, tempo, irama, jeda, mimik, gerak-gerik, dan unsur nonbahasa
lainnya. Dalam hal ini, unsur-unsur nonbahasa tersebut tidak dapat dituliskan
sehingga dapat menyulitkan komunikasi dan dapat menimbulkan kesalahpahaman.
Oleh karena itu ejaan dan tanda baca (pungtuasi) digunakan untuk menggantikan
beberapa unsur nonbahasa yang diperlukan untuk memperjelas gagasan atau pesan.
Pungtuasi adalah tanda baca berbentuk
baik symbol-simbol tertulis, untuk memahami fungsi dari naik atau turun, apa makna
dari tutur yang disampaikan dalam tempo yang singkat atau dalam reative lama.
A.
Pentingnya Pungtuasi
Pungtuasi
dibuat berasarkan dua hal utama yang saling melengkapi yaitu:
a.
Didasarkan pada unsur suprasegmental.
b.
Didasarkan pada hubungan sistaksis, yaitu:
1.
Unsur-unsur sintaksis yang erat hubungannya
tidak boleh dipisahkan dengan tanda-tanda baca.
2.
Unsur-unsur sintaksis yang erat hubungannya
harus dipisahkan dengan tanda-tanda baca.
B.
Dasar Pungtuasi
Bahasa
dalam pengertian sehari-hari adalah bahasa lisan, sedangkan bahasa tulis
merupakan pencerminan kembali dari bahasa lisan tersebut dalam bentuk
symbol-simbol tertulis. Setiap orang yang diajak bicara langsung memahami apa
fungsi dari suara naik atau menurun, apa makna dari suatu tutr yang disampaikan
dalam tempo yang singkat atau dalam tempo yang relative lebih lama. Tetapi
semuanya ini baru menjadi persoalan bila bahasa lisan tersebut ditranskripsikan
dalam tulisan. Transkripsi bahasa lisan itu ialah menuangkan hasil ujaran
manusia beserta nuansa lagu dan laju ujaran itu ke dalam gambar-gambar di atas
sehelai kertas.
C.
Macam-Macam Pungtuasi dan Penggunaannya
a.
Titik (.)
Tanda titik dipakai untuk:
1.
Menyatakan akhir dari sebuah tutur atau
kalimat.
Misalnya: Bapak sudah pergi ke kantor.
2.
Tanda titik dipakai dibelakang angka atau
huruf dalam suatu bagan, ikhtisar atau daftar.
Misalnya:
2.3.1
Pentingnya Pungtuasi
2.3.2
Dasar Pungtuasi
2.3.3
Macam-Macam Pungtuasi dan Penggunaannya
3.
Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka
jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu atau jangka waktu.
Misalnya: Pukul 01.35.20 (pukul 1
lewat 35 menit 20 detik)
4.
Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di
antara nama penulis, tahun, judul tulisan (yang tidak berakhir dengan tanda
tanya atau tanda seru), dan tempat terbit.
Misalnya: Pusat Bahasa, Departemen
Pendidikan Nasional. 2008. Peta Bahasa di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Jakarta.
5.
Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan
ribuan atau kelipatannya yang menunjukkan jumlah. Misalnya: Indonesia memiliki
lebih dari 13.000 pulau.
b.
Koma (,)
Koma atau pemberhentian antara yang
menunjukkan suara menaik di tengah-tengah tutur. Di samping untuk menyatakan
perhentian antara (dalam kalimat), koma juga dipakai untuk beberapa tujuan
tertentu, yaitu:
1.
Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam
suatu pemerincian atau pembilangan.
Misalnya: Buku, majalah, dan jurnal
termasuk sumber kepus-takaan.
2.
Tanda koma dipakai sebelum kata penghubung,
seperti tetapi, melainkan, dan sedangkan, dalam kalimat majemuk (setara).
Misalnya: Saya ingin membeli kamera, tetapi
uang saya belum cukup.
3.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak
kalimat yang mendahului induk kalimatnya.
Misalnya: Karena baik hati, dia
mempunyai banyak teman.
4.
Tanda koma dipakai di belakang kata atau
ungkapan peng-hubung antarkalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dengan
demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun demikian.
Misalnya: Mahasiswa itu rajin dan
pandai. Oleh karena itu, dia memperoleh beasiswa belajar di luar negeri.
5.
Tanda koma dipakai sebelum dan/atau sesudah
kata seru, seperti o, ya, wah, aduh, atau hai, dan kata yang dipakai sebagai
sapaan, seperti Bu, Dik, atau Nak.
Misalnya: Hati-hati, ya, jalannya
licin!
6.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan
langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Misalnya: Kata nenek saya, “Kita harus
berbagi dalam hidup ini.”
7.
Tanda koma dipakai di antara (a) nama dan
alamat, (b) bagian-bagian alamat, (c) tempat dan tanggal, serta (d) nama tempat
dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Misalnya:
Sdr. Abdullah, Jalan Kayumanis III/18,
Kelurahan Kayu-manis, Kecamatan Matraman, Jakarta 13130
8.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian
nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Gunawan, Ilham. 1984. Kamus Politik Internasional. Ja-karta:
Restu Agung.
9. Tanda koma
dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki atau catatan akhir.
Misalnya:
Sutan
Takdir Alisjahbana, Tata Bahasa Baru Bahasa In-donesia, Jilid 2 (Jakarta:
Pustaka Rakyat, 1950), hlm. 25.
10. Tanda koma
dipakai di antara nama orang dan singkatangelar akademis yang mengikutinya
untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
Misalnya:
B. Ratulangi, S.E
11. Tanda koma
dipakai sebelum angka desimal atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan
dengan angka.
Misalnya: Rp500,50
12.
Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan
tambahan atau keterangan aposisi.
Misalnya: Soekarno, Presiden I RI,
merupakan salah seorang pendiri Gerakan Nonblok.
13.
Tanda koma dapat dipakai di belakang
keterangan yang terdapat pada awal kalimat untuk menghindari salah baca/salah
pengertian.
Misalnya: Dalam pengembangan bahasa,
kita dapat memanfaat-kan bahasa daerah.
c.
Titik Koma (;)
Fungsi titik koma sebenarnya terletak
antara titik dan koma. Di satu sisi orang ingin melanjutkan kalimatnya dengan
bagan-bagian kalimat berikutnya, tetapi pihak lain dirasakan bahwa bagian
kalimat tadi sudah dapat diakhiri dengan sebuah titik. Sebab itu titik koma
dilambangkan dengan sebuah titik di atas sebuah koma (;). Titik koma dipakai
dalam hal-hal berikut:
1.
Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti
kata peng-hubung untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara
yang lain di dalam kalimat majemuk.
Misalnya: Ayah menyelesaikan
pekerjaan; Ibu menulis makalah; Adik membaca cerita pendek.
2.
Tanda titik koma dipakai pada akhir perincian
yang berupa klausa.
Miaslnya:
Syarat penerimaan pegawai di lembaga
ini adalah
(1) berkewarganegaraan Indonesia;
(2) berijazah sarjana S-1;
(3) berbadan sehat; dan
(4) bersedia ditempatkan di seluruh
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
3.
Tanda titik koma dipakai untuk memisahkan
bagian-ba-gian pemerincian dalam kalimat yang sudah menggunakan tanda koma.
Misalnya: Ibu membeli buku, pensil,
dan tinta; baju, celana, dan kaus; pisang, apel, dan jeruk.
d.
Titik Dua (:)
Titik dua yang dilambangkan dengan
(:), biasanya dipakai digunakan dalam hal-hal berikut:
1.
Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu
pernyataan leng-kap yang diikuti pemerincian atau penjelasan.
Misalnya: Mereka memerlukan perabot
rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
2.
Tanda titik dua tidak dipakai jika perincian
atau penjelasan itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
Misalnya: Kita memerlukan kursi, meja,
dan lemari.
3.
Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau
ungkapan yang memerlukan pemerian.
Misalnya:
Ketua :
Ahmad Wijaya
Sekretaris : Siti Aryani
Bendahara : Aulia Arimbi
4.
Tanda titik dua dipakai dalam naskah drama
sesudah katayang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Misalnya:
Ibu :
“Bawa koper ini, Nak!”
Amir :
“Baik, Bu.”
5.
Tanda titik dua dipakai di antara (a) jilid
atau nomor dan halaman, (b) surah dan ayat dalam kitab suci, (c) judul dan anak
judul suatu karangan, serta (d) nama kota dan pener-bit dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Dari Pemburu ke Terapeutik: Antologi
Cerpen NusantaraPedoman Umum Pembentukan Istilah. Jakarta: Pusat Bahasa.
e.
Tanda Hubung (-)
Tanda
hubung digunakan dalam hal-hal berikut:
1.
Tanda hubung dipakai untuk menandai bagian
kata yang terpenggal oleh pergantian baris.
Misalnya:
Di samping cara lama, diterapkan juga
ca-
ra baru.
2.
Tanda hubung dipakai untuk menyambung unsur
kata ulang.
Misalnya: Anak-anak, berulang-ulang,
kemerah-merahan, mengorek-ngorek, dll.
3.
Tanda hubung
dipakai untuk menyambung tanggal, bulan, dan tahun yang dinyatakan dengan angka
atau menyam-bung huruf dalam kata yang dieja satu-satu.
Misalnya:
11-11-2013
4.
Tanda hubung
dapat dipakai untuk memperjelas hubungan bagian kata atau ungkapan.
Misalnya:
ber-evolusi
dua-puluh-lima
ribuan (25 x 1.000)
²³∕₂₅
(dua-puluh-tiga perdua-puluh-lima) mesin hitung-tangan
5.
Tanda hubung
dipakai untuk merangkai
(a)
se- dengan kata
berikutnya yang dimulai dengan hurufkapital (se-Indonesia, se-Jawa Barat);
(b)
ke- dengan angka
(peringkat ke-2);
(c)
angka dengan –an
(tahun 1950-an);
(d)
kata atau imbuhan
dengan singkatan yang berupa huruf kapital (hari-H, sinar-X, ber-KTP,di-SK-kan);
(e)
kata dengan kata
ganti Tuhan (ciptaan-Nya, atas rah-mat-Mu);
(f)
huruf dan angka
(D-3, S-1, S-2);
(g)
kata ganti-ku,
-mu, dan -nya dengan singkatan yang beru-pa huruf kapital (KTP-mu, SIM-nya,
STNK-ku).
6.
Tanda hubung dipakai untuk merangkai unsur
bahasa Indonesia dengan unsur bahasa daerah atau bahasa asing.
Misalnya:
di-sowan-i
(bahasa Jawa, ‘didatangi’)
di-back
up
7.
Tanda hubung digunakan untuk menandai bentuk
terikat yang menjadi objek bahasan.
Misalnya:
Kata pasca-
berasal dari bahasa Sanskerta.
Akhiran -isasi
pada kata betonisasi sebaiknya diubah menjadi pembetonan.
f.
Tanda Pisah (—)
Tanda pisah digunakan dalam hal-hal berikut:
1.
Tanda pisah dapat dipakai untuk membatasi
penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat.
Misalnya:
Kemerdekaan bangsa itu—saya yakin akan
tercapai—diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
2.
Tanda pisah dapat dipakai juga untuk
menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain.
Misalnya:
Soekarno-Hatta—Proklamator Kemerdekaan
RI—diabadikan menjadi nama bandar udara internasional.
3.
Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan,
tanggal, atau tempat yang berarti ‘sampai dengan’ atau ‘sampai ke’.
Misalnya:
Tahun
2010—2013
Tanggal
5—10 April 2013
Jakarta—Bandung
g.
Tanda Tanya (?)
Tanda
Tanya digunakan dalam hal-hal berikut:
1.
Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.
Misalnya: Kapan Hari Pendidikan Nasional
diperingati?
2.
Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung
untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan
kebenarannya.
Misalnya: Di Indonesia terdapat 740 (?) bahasa daerah.
h.
Tanda Seru (!)
Tanda seru dipakai untuk mengakhiri ungkapan
atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan
kesungguhan, ketidakpercayaan, atau emosi yang kuat.
Misalnya: Bayarlah pajak tepat pada waktunya!
i.
Tanda Elipsis (...)
Tanda
ellipsis digunakan dalam hal-hal berikut:
1.
Tanda elipsis dipakai untuk menunjukkan bahwa
dalam suatu kalimat atau kutipan ada bagian yang dihilangkan.
Misalnya:
Dalam Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan
bahwa bahasa negara ialah .......,
2.
Tanda elipsis dipakai untuk menulis ujaran
yang tidak selesai dalam dialog.
Misalnya:
“Menurut
saya ... seperti ... bagaimana, Bu?”
j.
Tanda Petik (“…”)
Tanda petik
digunakan dalam hal-hal berikut:
1.
Tanda petik dipakai untuk mengapit petikan
langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain.
Misalnya:
“Merdeka atau mati!” seru Bung Tomo dalam
pidatonya. “Kerjakan tugas ini sekarang!”
2.
Tanda petik dipakai untuk mengapit judul sajak,
lagu, film, sinetron, artikel, naskah, atau bab buku yang dipakai da-lam
kalimat.
Misalnya: Sajak “Pahlawanku” terdapat pada
halaman 125 buku itu.
3.
Tanda petik dipakai untuk mengapit istilah
ilmiah yang ku-rang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
Misalnya: Dilarang memberikan “amplop” kepada
petugas!
k.
Tanda Petik Tunggal
Tanda
petik tunggal biasanya digunakan dalam hal-hal berikut:
1.
Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit
petikan yang terdapat dalam petikan lain.
Misalnya:
Tanya dia,
“Kaudengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?”
2.
Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit
makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan.
Misalnya:
tergugat ‘yang digugat’
retina ‘dinding mata
sebelah dalam’
noken ‘tas khas Papua’
tadulako ‘panglima’
l.
Tanda Kurung ((…))
Tanda
kurung digunakan dalam hal-hal berikut:
1.
Tanda kurung dipakai untuk mengapit tambahan
keterangan atau penjelasan.
Misalnya: Dia memperpanjang surat izin
mengemudi (SIM).
2.
Tanda kurung dipakai untuk mengapit keterangan
atau penjelasan yang bukan bagian utama kalimat.
Misalnya:
Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan
arus perkembangan baru pasar dalam negeri.
3.
Tanda kurung dipakai untuk mengapit huruf atau
katayang keberadaannya di dalam teks dapat dimunculkan atau dihilangkan.
Misalnya: Pesepak
bola kenamaan itu berasal dari (Kota) Padang.
4.
Tanda kurung dipakai untuk mengapit huruf atau
angkayang digunakan sebagai penanda pemerincian.
Misalnya: Faktor
produksi menyangkut (a) bahan baku, (b) biaya produksi, dan (c) tenaga kerja.
m.
Tanda Kurung Siku ([…])
Tanda
kurung siku digunakan dlam hal-hal berikut:
1.
Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit
huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan atas kesalahan
atau kekurangan di dalam naskah asli yang ditulis orang lain.
Misalnya:
Ulang tahun [Proklamasi Kemerdekaan] Republik
Indonesia dirayakan secara khidmat.
2.
Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit
keterangan dalam kalimat penjelas yang terdapat dalam tanda kurung.
Misalnya:
Persamaan kedua proses itu (perbedaannya
dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman35─38]) perlu dibentang-kan di sini.
n.
Tanda Garis Miring (/)
Tanda
garis miring digunakan untuk:
1.
Tanda garis miring dipakai dalam nomor surat,
nomor pada alamat, dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun
takwim.
Misalnya:
Nomor:
7/PK/II/2013
Jalan
Kramat III/10
2.
Tanda garis
miring dipakai sebagai pengganti katadan, atau, serta setiap.
Misalnya:
mahasiswa/mahasiswi ‘mahasiswa dan
mahasiswi’
buku
dan/atau majalah ‘buku dan majalah atau buku atau
majalah’
3.
Tanda garis
miring dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi
atau pengurangan atas kesalahan atau kelebihan di dalam naskah asli yang
ditulis orang lain.
Misalnya:
Buku Pengantar Ling/g/uistik karya Verhaar dicetak beberapa kali.
o.
Tanda Penyingkat
atau Apstrof (‘)
Tanda penyingkat dipakai untuk menunjukkan penghilangan bagian
kata atau bagian angka tahun dalam konteks tertentu.
Misalnya:
Dia ‘kan kusurati. (‘kan = akan)
Mereka sudah datang, ‘kan? (‘kan
= bukan)
Malam ‘lah tiba. (‘lah = telah)
5-2-‘13 (’13 = 2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar