Minggu, 22 September 2019

Sejarah Bahasa Indonesia





Tanggal 28 Oktober 1928 merupakan hari pelaksanaan Kongres pemuda II yang dihadiri oleh para pemuda dari seluruh nusantara. Dalam kongres ini, Muhammad Yamin secara resmi mengusulkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan Indonesia sehingga lahirah bahasa Indonesia. Kongres Pemuda II menghasilkan sebuah ikrar yang dinamakan Sumpah Pemuda yang isinya sebagai berikut:

1.       Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.
2.       Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.
3.       Kami Putra dan Putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Pada tahun 1928 itulah bahasa Indonesia dikukuhkan kedudukannya sebagai bahasa nasional. Bahasa Indonesia dinyatakan kedudukannya sebagai bahasa negara pada tanggal 18 Agustus 1945 karena pada saat itu Undang-Undang Dasar 1945 disahkan sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 Bab XV Pasal 36 disebutkan bahwa bahasa negara ialah bahasa Indonesia.

Pada tahun 1954 diadakan Kongres Bahasa Indonesia II di Medan yang menghasilkan keputusan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Dipilihnya bahasa Melayu sebagai dasar dari bahasa Indonesia karena bahasa Melayu telah digunakan sejak abad ke-7 di kawasan Asia Tenggara sebagai bahasa perhubungan (lingua franca).

Terdapat empat faktor yang menjadikan bahasa Melayu sebagai dasar dari bahasa Indonesia:

1.       Bahasa melayu sudah menjadi sebuah lingua franca bagi bangsa Indonesia, bahasa perdagangan, dan bahasa perhubungan.
2.       Sistem bahasa Melayu yang cukup sederhana, sehingga mudah untuk dipelajari karena bahasa melayu tidak mengenal tingkatan bahasa.
3.       Suku Jawa, Sunda, dan suku-suku yang lainnya dapat dengan sukarela untuk menerima bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia untuk digunakan sebagai bahasa nasional.
4.       Bahasa Melayu memiliki kesanggupan untuk digunakan sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang sangat luas.

1 komentar:

Diksi dan Gaya Bahasa