Senin, 18 November 2019

Diksi dan Gaya Bahasa


A.  Diksi

Diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan). Penggunaan ketepatan pilihan kata ini dipengaruhi oleh kemampuan pengguna bahasa yang terkait dengan kemampuan mengetahui, memahami, menguasai, dan menggunakan sejumlah kosa kata secara aktif yang dapat mengungkapkan gagasan secara tepat sehingga mampu mengomunikasikannya secara efektif kepada pembaca atau pendengarnya.

Macam-macam Makna

1.       Makna Denotatif

Makna denotatif disebut juga dengan beberapa istilah lain seperti: makna denotasional, makna kognitif, makna konseptual, makna ideasional, makna referensial atau makna proposional.

Disebut makna kognitif karena makna itu bertalian dengan kesadaran atau pengetahuan: stimulus (dari pihak pembicara) dan respons menyangkut hal-hal yang dapat diserap panca indra (kesadaran) dan rasio manusia. Dan makna ini disebut juga makna proposional karena ia bertalian dengan informasi-informasi atau pernyataan-pernyataan yang bersifat faktual. Selain itu, yang dimaksud dengan maknn denotatif yaitu makna sesungguhnya dari apa yang dimaksud oleh penulis. Contoh:
-          Rumah itu luasnya 250 meter persegi
-          Ada seribu orang yang menghadiri pertemuan itu
-          Toko ini dilayani oleh gadis-gadis

2.       Makna Konotatif
Makna konotatif adalah makna yang mengandung nilai-nilai emosional. Makna konotatif sebagian terjadi karena pembicara ingin menimbulkan perasaan tidak setuju – setuju, senang – tidak senang, dan sebagainya pada pihak pendengar: dipihak lain, kata yang dipilih itu memperlihatkan bahwa pembicaranya juga menyimpan perasaan yang sama.
Makna konotatif juga berarti makna yang tidak merujuk langsung dengan maksud yang sebenarnya. Contoh:
-          Rumah itu luas sekali.
-          Banyak sekali orang yang menghadiri pertemuan itu.
-          Meluap hadirin yang menghadiri pertemuan itu.
Struktur Leksikal
Struktur leksikal adalah bermacam-macam relasi semantik yang terdapat pada kata. Hubungan antara kata itu dapat terwujud: sinonimi, polisemi, himonimi, hipernimi dan antonimi.
1.       Sinonimi
Sinonim adalah kata-kata yang memiliki makna yang sama. Dalam ilmu bahasa murni, sebenarnya tidak diakui adanya sinonim-sinonim. Tiap kata mempunyai makna atau nuansa makna yang berlainan, walaupun ada ketumpang-tindihan antara satu kata dengan kata yang lain, ketumpang-tindihan inilah yang membuat orang menerima konsep sinonimi dan sinonim sebagai yang dikemukakan di atas. Kesinoniman dapat diukur dari kedua kriteria berikut.
a.       Kedua kata itu harus saling bertukar semua dalam konteks; ini disebut sinonim total
b.      Kedua kata itu memiliki identitas maka kognitif dan emotif yang sama; hal ini disebut sinonim komplet.
Dengan kriteria ini dapat diperoleh empat macam sinonim yaitu
a.       Sinonim yang total dan komplet yang dalam kenyataan jarang ada dan inilah yang dijadikan landasan menolak adanya sinonim
b.      Sinonim yang tidak total tetapi komplet
c.       Sinonim yng tidak total tetapi komplet,
d.      Sinonim yang tidak komplet dan tidak total
Faktor-faktor yang menyebabkan adanya sinonim:
a.       Proses serapan dari pengenalan dengan bahasa lain membawa akibat penerimaan kata-kata baru yang sebenarnya sudah ada padanannya dalam bahasa sendiri. Contohnya: kata hasil, tetapi masih menerima kata prestasi dan produksi; kata jahat dan kotor tetapi masih menerima kata maksiat; kata karangan  tetapi masih menerima kata risalah, artikel, makalah atau esai.
b.      Penyerapan bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia. Tampat kedianaman yang berlainan mempengaruhhi pula perbedaan kosa kata yang digunakan, walaupun referennya sama. Contoh: tali dan tambang, parang dan golok, ubi kayu dan singkong, lempung dan tanah liat, tuli dan pekak, sore dan petang, dan sebagainya
c.       Makna emotif dan makna evaluatif. Makna kognitif dari kata-kata yang bersinonim itu sama, hanya nilai evaluatif dan nilai emotifnya(nilai rasa) berbeda. Contoh:
§  Ekononomis – hemat – irit.
§  Dara – gadis – perempuan.
§  Mati – meninggal – gugur – wafat – mangkat.
§  Penyair – pujangga.
§  Kuat – perkasa – gagah – berani.

2.       Polisemi
Kata polisemi yang berarti satu kata memiliki banyak makna. Contoh:
-          Saya menabung di bank dan mendapat bunga 20%
-          Sinta menjadi bunga desa di desanya.
-          Bunga melati sangat harum wanginya.
Dalam kalimat pertama kata bunga di sini adalah sebagai mendapat keuantungan. Sedangkan pada kalimat kedua berarti wanita paling cantik di desanya. Terakhir kalimat ketiga yang berarti tumbuhan bunga melati yang harum wanginya.
3.       Hipernim dan Hiponim
Hipernim adalah kata-kata yang mewakili banyak kata lain. Kata hipernim dapat menjadi kata umum dari penyebutan kata-kata lainnya. Sedangkan hiponim adalah kata-kata yang terwakili artinya oleh kata hipernim. Umumnya kata-kata hipernim adalah suatu kategori dan hiponim merupakan anggota dari kata hipernim
Contohnya adalah kata “rasa”. Kata rasa meliputi manis, pahit, asam, dan asin.
4.       Antonimi
Istilah antonimi dipakai untuk menyatakan lawan makna sedangkan kata yang berlawanan disebut antonim. Terdapat macam-macam kata yang berantonim itu. Oposisi antarkata dapat berbentuk:
-          Oposisi Kembar: oposisi yang mencakup dua anggota seperti: laki-laki – wanita; jantan – betina; hidup – mati.
-          Oposisi majemuk,  oposisi yang mencakup suatu perangkat yang terdiri dari dua kata.
-          Oposisi gradual, antara dua istilah yang berlawanan masih terdapat sejumlah tingkatan.
-          Opoisi relasional, oposisi antara dua kata yang mengandung relasi kebalikan.
-          Oposisi hirarkis, oposisi yang terjadi karena tiap istilah menduduki derajat yang berlainan. Oposisi ini sebenarnya oposisi majemuk, namun di sini terdapat suatu kriteria tambahan tingkat.
-          Oposisi inversi, oposisi yang terdapat pada pasangan kata seperti:  beberapa – semua, mungkin – wajib, boleh – harus, tetap – menjadi.

B.      Gaya Bahasa
Gaya bahasa yaitu pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu yang membuat sebuah karya sastra semakin hidup, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis.
Unsur Gaya Bahasa
1.       Kejujuran
Kejujuran dalam bahasa berarti adalah kita mengikuti aturan-aturan, kaidah-kaidah yang baik dan benar dalam berbahasa. Yaitu pemakaian kata-kata yang kabur dan tak terarah, serta penggunaan kalimat yang berbelit-belit adalah jalan untuk mengundang ketidakjujuran.

2.       Sopan santun
Sopan santun adalah memberi penghargaan atau menghormati orang yang diajak berbicara, khususnya pendengar atau pembaca. Rasa hormat dalam gaya bahasa dimanifestasikan melalui kejelasan dan kesingkatan.
Kejelasan akan diukur dalam beberapa butir kaidah berikut, yaitu :
-          Kejelasan dalam struktur gramatikal kata dan kalimat;
-          Kejelasan dalam korespodensi dengan fakta yang diungkapkan melalui kata- kata atau kalimat tadi;
-          Kejelasan dalam pengurutan ide secara logis;
-          Kejelasan dalam penggunaan kiasan dan pebandingan.
Kesingkatan lebih efektif dan mempergunakan kata – kata secara efisien, meniadakan penggunaan dua kata yang maknanya sama.
3.       Menarik
Sebuah gaya menarik dapat diukur melalui beberapa komponen berikut : variasi,humor yang sehat, pengertian yang baik, tenaga hidup( vitalitas), dan penuh gaya khayal (imajinasi).

Jenis-jenis Gaya Bahasa
1.       Segi non bahasa
a.       Berdasarkan pengarang: Gaya yang disebut sesuai dengan nama pengarang dikenal berdasarkan ciri pengenal yang digunakan pengarang atau penulis dalam karangannya. Seperti kita mengenal gaya Chairil, gaya Takdir, dan sebagaianya.
b.      Berdasarkan Masa: gaya bahasa yang didasarkan pada masa dikenal karena ciri-ciri tertentu yang berlangsung dalam suatu kurun waktu tertentu. Misalnya ada gaya lama, gaya klasik, gaya sastra modern, dan sebagaianya.
c.       Berdasarkan Medium: yaitu bahasa dalam arti alat komunikasi.
d.      Berdasarkan Subyek: Subyek yang menjadi pokok pembicaraan dalam sebuah karangan dapat mempengaruhi pula gaya bahasa sebuah karangan. Berdasarkan hal ini kita mengenal gaya: filsafat ilmiah (hukum, teknik, sastra, dan sebagainya), popular, didaktik, dan sebagainya.
e.      Berdasarkan Tempat: Gaya ini mendapatkan namanya dari lokasi geografis, karena ciri-ciri kedaerahan mempengaruhi ungkapan atau ekpresi bahasanya.
f.        Berdasarkan Hadirin: Gaya bahasa ini juga mempengaruhi gaya yang dipergunakan seorang pengarang. Ada gaya popular atau gaya demagog yang cocok untuk rakyat banyak. Ada gaya yang sopan untuk lingkungan yang terhormat. Ada pula gaya intim (familiar) yang cocok untuk lingkungan keluarga.
g.       Berdasarkan Tujuan: Gaya Berdasarkan tujuan memperoleh namanya dari maksud yang ingin disampaikan oleh pengarang, dimana pengarang ingin mencurahkan gejolak emotifnya.

2.       Segi bahasa
a.       Gaya bahasa berdasarkan pilihan kata
-          Gaya bahasa resmi
Gaya bahasa resmi biasanya digunakan pada amanat kepresidenan, berita negara, khotbah-khotbah mimbar, tajuk rencana, pidato-pidato yang penting, artikel-artikel yang serius atau esei yang memuat subyek-subyek yang penting, semuanya dibawakan dengan gaya bahasa resmi.
-          Gaya bahasa tak resmi
Gaya ini biasanya dipergunakan dalam karya-karya tulis, buku-buku pegangan, artikel-artikel iningguan atau bulanan yang baik, dalam perkuliahan, editorial, kolumnis, dan sehagainya. Singkatnya gaya bahasa tak resmi adalah gaya bahasa yang umum dan normal bagi kaum terpelajar.
-          Gaya bahasa percakapan
Dalam gaya bahasa ini, pilihan katanya adalah kata-kata populer dan kata-kata percakapan. Namun di sini harus ditambahkan segi-segi morfologis dan sintaksis, yang secara bersama-sama membentuk gaya bahasa percakapan ini. Biasanya segi-segi sintaksis tidak terlalu diperhatikan, demikian pula segi-segi morfologis yang biasa diabaikan sering dihilangkan.

b.      Gaya bahasa berdasarkan nada yang terkandung dalam wacana
-          Gaya Sederhana
Gaya ini biasanya cocok untuk memberi instruksi, perintah, pelajaran, perkuliahan, dan sejenisnya. Sebab itu untuk mempergunakan gaya ini secara.
-          Gaya Mulia dan Bertenaga
Gaya ini penuh dengan vitalitas dan energy. Ia biasanya dipergunakan untuk menggerakkan sesuatu. Menggerakkan sesuatu tidak saja dengan mempergunakan tenaga dan vitalitas pembicara, tetapi juga dapat mempergunakan nada keagungan dan kemuliaan. Nada yang agung dan mulia akan anggup pula menggerakkan emosi setiap pendengar. Di balik keagungan dan kemuliaan itu terdapat tenaga penggerak yang luar biasa, tenaga yang benar-benar mampu menggetarkan emosi para pendengar atau pembaca.
-          Gaya Menengah
Gaya menengah adalah gaya yang diarahkan kepada usaha untuk menimbulkan suasana senang dan damai. Karena tujuannya adalah menciptakan suasana senang dan damai, maka nadanya juga bersifat lemah-lembut, penuh kasih sayang, dan mengandung humor yang sehat.

c.       Gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat
-          Klimaks
Gaya bahasa klimaks diturunkan dan kalimat yang bersifat periodik. Klimaks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung urutan-urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat kepentingannya dan gagasan-gagasan sebelumnya.
-          Antiklimaks
Antiklimaks dihasilkan oleh kalimat yang berstruktur mengendur. Antiklimaks sebagai gaya bahasa merupakan suatu acuan yang gagasan-gagasannya diurutkan dan yang terpenting berturut-turut ke gagasan yang kurang penting.
-          Paralelisme
Paralelisme adalah semacam gaya bahasa yang berusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata-kata atau frasa-frasa yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama. Kesejajaran tersebut dapat pula berbentuk anak kalimat yang bergantung pada sebuah induk kalimat yang sama. Gaya ini lahir dan struktur kalimat yang berimbang.
-          Anitesis
Antitesis adalah sebuah gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan, dengan mempergunakan kata-kata atau kelompok kata yang berlawanan.
-          Repetisi
Repetisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai.

d.      Gaya bahasa berdassarkan langsung tidaknya makna
-          Gaya bahasa retoris
·         Aliterasi
Aliterasi adalah semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama. Contoh: Takut titik lalu tumpuk; Keras-keras kerah kena air lembut juga.
·         Asonansi
Asonansi adalah semacam gayah bahasa yang berwujud perulangan bunyi vokal yang sama. Contoh: Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu.
·         Anastrof
Anastrof atau inversi adalah semacam gaya retoris yang diperoleh dengan pembalikan susunan kata yang biasa dalam kalimat.
Contoh:
Pergilah ia meninggalkan kami, keheranan kami melihat perangainya.
Bersorak-sorak orang di tepi jalan memukul bermacam-macam bunyi-bunyian melalui gerbang dihiasi bungan dan panji berkibar.
·         Apofasis atau Preterisio
Apofasis atau disebut juga preterisio merupakan sebuah gaya dimana penulis atau pengarang menegaskan sesuatu, tetapi tampaknya mengangkal. Misalnya: Saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini bahwa Saudara telah menggelapkan ratusan juta rupiah uang negara.
·         Apostrof
Apostrof adalah gaya yang berbentuk pengalihan amanat dari para haridi kepada sesuatu yang tidak hadir. Misalnya: Hai kamu dewa-dewa yang berada di surga, datanglah dan bebaskanlah kami dari belenggu penindasan ini.
·         Elipsis
Elipsis adalah suatu gaya yang berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang mudah dapat diiisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca oleh pendengar, sehingga struktur dramatikal atau kalimatnya memenuhi pola yang berlaku. Misalnya:  Masihkah kau tidak percaya bahwa dari segi fisik engkau tak apa-apa, badanmu sehat: tetapi psikis....
·         Litotes
Litotes adalah semacam gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri. Misalnya: saya tidak akan memrasa bahagia bila mendapatkan warisan 1 milyar rupiah
·         Pleonasme atau Tautologi
Pleonasme adalah acuan yang mempergunakan kata-kata lebih banyak dari pada yang diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau gagasan. Misalnya: Ia tiba jam 20.00 malam waktu setempat; Globe itu bundar bentuknya.
·         Hiperbola
Hiperbola adalah semacam gaya bahasa yang mengandung suatu pernyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal. Misalnya: Kemarahanku sudah menjadi-jadi hingga hampir-hampir meledak aku; Jika kau terlambat sedikit saja, pasti kau tidak akan diterima lagi.
·         Paradoks
Paradoks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada. Paradoks juga berarti semua hal yang menarik perhatian karena kebenarannya. Misalnya: Musuh sering merupakan kawan yang akrab; Ia mati kelaparan di tengah-tengah kekayaannya yang berlimpah-limpah.
-          Gaya bahasa kiasan
·         Persamaan atau Simile

Persamaan atau simile adalah perbandirigan yang bersifat eksplisit. Yang dimaksud dengan perbandingan yang bersifat eksplisit ialah bahwa ia langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain. Untuk itu, ia memerlukan upaya yang secara eksplisit menunjukkan kesamaan itu, yaitu kata-kata: seperti, sama, sebagai, bagaikan, laksana, dan sebagainya.

Kikimya seperti kepiting batu
Bibirya seperti delima merekah
Matanya seperti bintang timur
·         Metafora
Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat: bunga bangsa, buaya darat, buah hati, cindera mata, dan sebagainya.
Metafora sebagai perbandingan langsung tidak mempergunakan kata: seperti, bak, bagai, bagaikan, dan sebagainya, sehingga pokok pertama langsung dihubungkan dengan pokok kedua. Proses terjadinya sebenanya sama dengan simile tetapi secara berangsur-angsur keterangan mengenai persamaan dan pokok pertama dihilangkan,
misalnya:
Pemuda adalah seperti bunga bangsa. —> Pemuda adalah bunga
bangsa, Pemuda —> Bunga bangsa
Orang itu seperti buaya darat. —* Orang itu adalah buaya darat.
Orang itu —> buaya darat.
·         Alegori, Parabel, dan Fabel

Alegori adalah suatu cerita singkat yang mengandung kiasan. Makna kiasan ini harus ditarik dari bawah permukaan ceritanya. Dalam alegori, nama-nama pelakunya adalah sifat-sifàt yang abstrak, serta tujuannya selalu jelas tersurat.
Parabel (parabola) adalah suatu kisah singkat dengan tokoh-tokoh biasanya manusia, yang selalu mengandung tema moral. lstilah parabel dipakai untuk menyebut cerita-cerita fiktif di dalam Kitab Suci yang bersifat alegoris, untuk menyampaikan suatu kebenaran moral atau kebenaran spiritual.
 Fabel adalah suatu metafora berbentuk cerita mengenai dunia binatang, di mana binatang-binatang bahkan makhluk-makhluk yang tidak bemyawa bertindak seolah-olah sebagai manusia. Tujuan fabel seperti parabel ialah menyampaikan ajaran moral atau budi pekerti. Fabel menyampaikan suatu prinsip tingkah laku melalui analogi yang transparan dan tindak-tanduk binatang, tumbuh-tumbuhan, atau makhluk yang tak bernyawa.
·         Personifikasi atau Prosopopoeia

Personifikasi atau prosopopoeia adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan. Personifikasi (penginsanan) merupakan suatu corak khusus dan metafora, yang mengiaskan benda-benda mati bertindak, berbuat, berbicara seperti manusia.

Angin yang meraung di tengah malam yang gelap itu menambah lagi ketakutan kami.
Matahari baru saja kembali ke peraduannya, ketika kami tiba di sana. Kulihat ada bulan di kotamu lalu turun di bawah pohon belimbing depan rumahmu barangkali ia menyeka mimpimu.
·         Ironi, Sinisme, dan Sarkasme
Ironi diturunkan dan kata eironeia yang berarti penipuan atau pura-pura. Sebagai bahasa kiasan, ironi atau sindiran adalah suatu acuan yang ingin mengatakan sesuatu dengan makna atau maksud berlainan dan apa yang terkandung dalam rangkaian kata-katanya. Ironi merupakan suatu upaya literer yang efektif karena ia menyampaikan impresi yang mengandung pengekangan yang besar. Entah dengan sengaja atau tidak, rangkaian kata-kata yang dipergunakan itu mengingkari maksud yang sebenarnya. Sebab itu, ironi akan berhasil kalau pendengar juga sadar akan maksud yang disembunyikan di balik rangkaian kata-katanya.
Misalnya:
Tidak diragukan lagi bahwa Andalah orangnya, sehingga semua kebijaksanaan terdahulu harus dibatalkan seluruhnya!
Saya tahu Anda adalah seorang gadis yang paling cantik di dunia ini yang penlu mendapat tempat terhormat!
Sinisme diartikan sebagai suatu sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati. Walaupun sinisme dianggap lebih keras dan ironi, namun kadang-kadang masih sukar diadakan perbedaan antara keduanya. Bila contoh mengenai ironi di atas diubah, maka akan dijumpai gaya yang lebih bersifat sinis.

Tidak diragukan lagi bahwa Andalah orangnya, sehingga semua kebjaksanaan akan lenyap bersamamu!
Memang Anda adalah seorang gadis paling tercantik di seantero jagad ini yang mampu menghancurkan seluruh isi jagat ini.
Dengan kata lain, sinisme adalah ironi yang lebih kasar sifatnya.
Sarkasme merupakan suatu acuan yang lebih kasar dan ironi dan sinisme. Ia adalah suatu acuan yang mengandung kepahitan dan celaan yang getir.
Sarkasme dapat saja bersifat ironis, dapat juga tidak, tetapi yang jelas adalah bahwa gaya ini selalu akan menyakiti hati dan kurang enak didengar. Kata sarkasme diturunkan dan kata Yunanj sarkasmos, yang lebih jauh diturunkan dan kata kerja sakasein yang berarti “merobek-robek daging seperti anjing”, “menggigit bibir karena marah”, atau “berbicara dengan kepahitan”.

Mulutkau harimau kau.
Lihat sang Raksasa itu (maksudnya si Eebol).
Kelakuanmu memuakkan saja.
·         Satire
Ironi sering kali tidak harus ditafsirkan dari sebuah kalimat atau acuan, tetapi harus diturunkan dari suatu uraian yang panjang. Dalam hal terakhir ini, pembaca yang tidak kritis atau yang sederhana pengetahuannya, bisa sampai kepada kesimpulan yang diametral bertentangan dengan apa yang dimaksudkan penulis, atau berbeda dengan apa yang dapat ditangkap oleh pembaca kritis. Untuk memahami apakah bacaan bersifat ironis atau tidak, pembaca atau pendengar harus mencoba meresapi implikasi-implikasi yang tersirat dalam baris-baris atau nada-nada suara, bukan hanya pada peryataan yang eksplisit itu. Pembaca harus berhati-hati menelusuri batas antara perasaan dan kegamblangan arti harfiahnya.

Diksi dan Gaya Bahasa