A. Diksi
Diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya)
untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang
diharapkan). Penggunaan ketepatan pilihan kata ini dipengaruhi oleh kemampuan
pengguna bahasa yang terkait dengan kemampuan mengetahui, memahami, menguasai,
dan menggunakan sejumlah kosa kata secara aktif yang dapat mengungkapkan
gagasan secara tepat sehingga mampu mengomunikasikannya secara efektif kepada
pembaca atau pendengarnya.
Macam-macam Makna
1.
Makna Denotatif
Makna denotatif disebut juga dengan beberapa istilah lain seperti:
makna denotasional, makna kognitif, makna konseptual, makna ideasional, makna
referensial atau makna proposional.
Disebut makna kognitif karena makna itu bertalian dengan kesadaran
atau pengetahuan: stimulus (dari pihak pembicara) dan respons menyangkut
hal-hal yang dapat diserap panca indra (kesadaran) dan rasio manusia. Dan makna
ini disebut juga makna proposional karena ia bertalian dengan
informasi-informasi atau pernyataan-pernyataan yang bersifat faktual. Selain
itu, yang dimaksud dengan maknn denotatif yaitu makna sesungguhnya dari apa
yang dimaksud oleh penulis. Contoh:
-
Rumah itu luasnya 250 meter persegi
-
Ada seribu orang yang menghadiri pertemuan itu
-
Toko ini dilayani oleh gadis-gadis
2.
Makna Konotatif
Makna konotatif adalah makna yang mengandung nilai-nilai
emosional. Makna konotatif sebagian terjadi karena pembicara ingin menimbulkan
perasaan tidak setuju – setuju, senang – tidak senang, dan sebagainya pada
pihak pendengar: dipihak lain, kata yang dipilih itu memperlihatkan bahwa
pembicaranya juga menyimpan perasaan yang sama.
Makna konotatif juga berarti makna yang tidak merujuk langsung
dengan maksud yang sebenarnya. Contoh:
-
Rumah itu luas sekali.
-
Banyak sekali orang yang menghadiri pertemuan
itu.
-
Meluap hadirin yang menghadiri pertemuan itu.
Struktur Leksikal
Struktur leksikal adalah bermacam-macam relasi semantik yang terdapat
pada kata. Hubungan antara kata itu dapat terwujud: sinonimi, polisemi, himonimi,
hipernimi dan antonimi.
1.
Sinonimi
Sinonim adalah kata-kata yang memiliki
makna yang sama. Dalam ilmu bahasa murni, sebenarnya tidak diakui adanya
sinonim-sinonim. Tiap kata mempunyai makna atau nuansa makna yang berlainan,
walaupun ada ketumpang-tindihan antara satu kata dengan kata yang lain,
ketumpang-tindihan inilah yang membuat orang menerima konsep sinonimi dan
sinonim sebagai yang dikemukakan di atas. Kesinoniman dapat diukur dari kedua
kriteria berikut.
a.
Kedua kata itu harus saling bertukar semua
dalam konteks; ini disebut sinonim total
b.
Kedua kata itu memiliki identitas maka
kognitif dan emotif yang sama; hal ini disebut sinonim komplet.
Dengan
kriteria ini dapat diperoleh empat macam sinonim yaitu
a.
Sinonim yang total dan komplet yang dalam
kenyataan jarang ada dan inilah yang dijadikan landasan menolak adanya sinonim
b.
Sinonim yang tidak total tetapi komplet
c.
Sinonim yng tidak total tetapi komplet,
d.
Sinonim yang tidak komplet dan tidak total
Faktor-faktor
yang menyebabkan adanya sinonim:
a.
Proses serapan dari pengenalan dengan bahasa
lain membawa akibat penerimaan kata-kata baru yang sebenarnya sudah ada
padanannya dalam bahasa sendiri. Contohnya: kata hasil, tetapi masih menerima
kata prestasi dan produksi; kata jahat dan kotor tetapi masih menerima kata maksiat;
kata karangan tetapi masih menerima kata
risalah, artikel, makalah atau esai.
b.
Penyerapan bahasa daerah ke dalam bahasa
Indonesia. Tampat kedianaman yang berlainan mempengaruhhi pula perbedaan kosa
kata yang digunakan, walaupun referennya sama. Contoh: tali dan tambang, parang
dan golok, ubi kayu dan singkong, lempung dan tanah liat, tuli dan pekak, sore
dan petang, dan sebagainya
c.
Makna emotif dan makna evaluatif. Makna
kognitif dari kata-kata yang bersinonim itu sama, hanya nilai evaluatif dan
nilai emotifnya(nilai rasa) berbeda. Contoh:
§
Ekononomis – hemat – irit.
§
Dara – gadis – perempuan.
§
Mati – meninggal – gugur – wafat – mangkat.
§
Penyair – pujangga.
§
Kuat – perkasa – gagah – berani.
2.
Polisemi
Kata polisemi yang berarti satu kata
memiliki banyak makna. Contoh:
-
Saya menabung di bank dan mendapat bunga 20%
-
Sinta menjadi bunga desa di desanya.
-
Bunga melati sangat harum wanginya.
Dalam
kalimat pertama kata bunga di sini adalah sebagai mendapat keuantungan.
Sedangkan pada kalimat kedua berarti wanita paling cantik di desanya. Terakhir
kalimat ketiga yang berarti tumbuhan bunga melati yang harum wanginya.
3.
Hipernim dan Hiponim
Hipernim adalah kata-kata yang
mewakili banyak kata lain. Kata hipernim dapat menjadi kata umum dari
penyebutan kata-kata lainnya. Sedangkan hiponim adalah kata-kata yang terwakili
artinya oleh kata hipernim. Umumnya kata-kata hipernim adalah suatu kategori
dan hiponim merupakan anggota dari kata hipernim
Contohnya adalah kata “rasa”. Kata
rasa meliputi manis, pahit, asam, dan asin.
4. Antonimi
Istilah antonimi dipakai untuk
menyatakan lawan makna sedangkan kata yang berlawanan disebut antonim. Terdapat
macam-macam kata yang berantonim itu. Oposisi antarkata dapat berbentuk:
-
Oposisi
Kembar: oposisi yang mencakup dua anggota seperti: laki-laki – wanita;
jantan – betina; hidup – mati.
-
Oposisi
majemuk, oposisi yang mencakup suatu
perangkat yang terdiri dari dua kata.
-
Oposisi
gradual, antara dua istilah yang berlawanan masih terdapat sejumlah
tingkatan.
-
Opoisi relasional, oposisi
antara dua kata yang mengandung relasi kebalikan.
-
Oposisi
hirarkis, oposisi yang terjadi karena tiap istilah menduduki derajat yang
berlainan. Oposisi ini sebenarnya oposisi majemuk, namun di sini terdapat suatu
kriteria tambahan tingkat.
-
Oposisi
inversi, oposisi yang terdapat pada pasangan kata seperti: beberapa – semua, mungkin – wajib, boleh –
harus, tetap – menjadi.
B. Gaya
Bahasa
Gaya bahasa yaitu pemanfaatan
kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu
yang membuat sebuah karya sastra semakin hidup, keseluruhan ciri bahasa
sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan
perasaan, baik secara lisan maupun tertulis.
Unsur Gaya
Bahasa
1. Kejujuran
Kejujuran dalam bahasa berarti adalah
kita mengikuti aturan-aturan, kaidah-kaidah yang baik dan benar dalam
berbahasa. Yaitu pemakaian kata-kata yang kabur dan tak terarah, serta
penggunaan kalimat yang berbelit-belit adalah jalan untuk mengundang
ketidakjujuran.
2.
Sopan santun
Sopan santun adalah memberi
penghargaan atau menghormati orang yang diajak berbicara, khususnya pendengar
atau pembaca. Rasa hormat dalam gaya bahasa dimanifestasikan melalui kejelasan
dan kesingkatan.
Kejelasan akan diukur dalam beberapa
butir kaidah berikut, yaitu :
-
Kejelasan dalam struktur gramatikal kata dan
kalimat;
-
Kejelasan dalam korespodensi dengan fakta yang
diungkapkan melalui kata- kata atau kalimat tadi;
-
Kejelasan dalam pengurutan ide secara logis;
-
Kejelasan dalam penggunaan kiasan dan
pebandingan.
Kesingkatan
lebih efektif dan mempergunakan kata – kata secara efisien, meniadakan
penggunaan dua kata yang maknanya sama.
3.
Menarik
Sebuah gaya menarik dapat diukur melalui
beberapa komponen berikut : variasi,humor yang sehat, pengertian yang baik,
tenaga hidup( vitalitas), dan penuh gaya khayal (imajinasi).
Jenis-jenis Gaya
Bahasa
1.
Segi non bahasa
a.
Berdasarkan pengarang: Gaya yang disebut
sesuai dengan nama pengarang dikenal berdasarkan ciri pengenal yang digunakan
pengarang atau penulis dalam karangannya. Seperti kita mengenal gaya Chairil,
gaya Takdir, dan sebagaianya.
b.
Berdasarkan Masa: gaya bahasa yang didasarkan
pada masa dikenal karena ciri-ciri tertentu yang berlangsung dalam suatu kurun
waktu tertentu. Misalnya ada gaya lama, gaya klasik, gaya sastra modern, dan
sebagaianya.
c.
Berdasarkan Medium: yaitu bahasa dalam arti
alat komunikasi.
d.
Berdasarkan Subyek: Subyek yang menjadi pokok
pembicaraan dalam sebuah karangan dapat mempengaruhi pula gaya bahasa sebuah
karangan. Berdasarkan hal ini kita mengenal gaya: filsafat ilmiah (hukum,
teknik, sastra, dan sebagainya), popular, didaktik, dan sebagainya.
e.
Berdasarkan Tempat: Gaya ini mendapatkan
namanya dari lokasi geografis, karena ciri-ciri kedaerahan mempengaruhi
ungkapan atau ekpresi bahasanya.
f.
Berdasarkan Hadirin: Gaya bahasa ini juga
mempengaruhi gaya yang dipergunakan seorang pengarang. Ada gaya popular atau
gaya demagog yang cocok untuk rakyat banyak. Ada gaya yang sopan untuk
lingkungan yang terhormat. Ada pula gaya intim (familiar) yang cocok untuk
lingkungan keluarga.
g.
Berdasarkan Tujuan: Gaya Berdasarkan tujuan
memperoleh namanya dari maksud yang ingin disampaikan oleh pengarang, dimana
pengarang ingin mencurahkan gejolak emotifnya.
2.
Segi bahasa
a.
Gaya bahasa berdasarkan pilihan kata
-
Gaya bahasa resmi
Gaya bahasa resmi biasanya digunakan pada amanat kepresidenan,
berita negara, khotbah-khotbah mimbar, tajuk rencana, pidato-pidato yang
penting, artikel-artikel yang serius atau esei yang memuat subyek-subyek yang
penting, semuanya dibawakan dengan gaya bahasa resmi.
-
Gaya bahasa tak resmi
Gaya ini biasanya dipergunakan dalam karya-karya tulis, buku-buku
pegangan, artikel-artikel iningguan atau bulanan yang baik, dalam perkuliahan,
editorial, kolumnis, dan sehagainya. Singkatnya gaya bahasa tak resmi adalah
gaya bahasa yang umum dan normal bagi kaum terpelajar.
-
Gaya bahasa
percakapan
Dalam gaya bahasa ini, pilihan katanya
adalah kata-kata populer dan kata-kata percakapan. Namun di sini harus
ditambahkan segi-segi morfologis dan sintaksis, yang secara bersama-sama
membentuk gaya bahasa percakapan ini. Biasanya segi-segi sintaksis tidak terlalu
diperhatikan, demikian pula segi-segi morfologis yang biasa diabaikan sering
dihilangkan.
b.
Gaya bahasa berdasarkan nada yang terkandung
dalam wacana
-
Gaya Sederhana
Gaya ini biasanya cocok untuk memberi
instruksi, perintah, pelajaran, perkuliahan, dan sejenisnya. Sebab itu untuk
mempergunakan gaya ini secara.
-
Gaya Mulia dan Bertenaga
Gaya ini penuh dengan vitalitas dan energy.
Ia biasanya dipergunakan untuk menggerakkan sesuatu. Menggerakkan sesuatu tidak
saja dengan mempergunakan tenaga dan vitalitas pembicara, tetapi juga dapat
mempergunakan nada keagungan dan kemuliaan. Nada yang agung dan mulia akan
anggup pula menggerakkan emosi setiap pendengar. Di balik keagungan dan
kemuliaan itu terdapat tenaga penggerak yang luar biasa, tenaga yang
benar-benar mampu menggetarkan emosi para pendengar atau pembaca.
-
Gaya Menengah
Gaya menengah adalah gaya yang
diarahkan kepada usaha untuk menimbulkan suasana senang dan damai. Karena
tujuannya adalah menciptakan suasana senang dan damai, maka nadanya juga
bersifat lemah-lembut, penuh kasih sayang, dan mengandung humor yang sehat.
c.
Gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat
-
Klimaks
Gaya bahasa klimaks diturunkan dan
kalimat yang bersifat periodik. Klimaks adalah semacam gaya bahasa yang
mengandung urutan-urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat
kepentingannya dan gagasan-gagasan sebelumnya.
-
Antiklimaks
Antiklimaks dihasilkan oleh kalimat
yang berstruktur mengendur. Antiklimaks sebagai gaya bahasa merupakan suatu
acuan yang gagasan-gagasannya diurutkan dan yang terpenting berturut-turut ke
gagasan yang kurang penting.
-
Paralelisme
Paralelisme adalah semacam gaya bahasa
yang berusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata-kata atau frasa-frasa
yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama. Kesejajaran
tersebut dapat pula berbentuk anak kalimat yang bergantung pada sebuah induk
kalimat yang sama. Gaya ini lahir dan struktur kalimat yang berimbang.
-
Anitesis
Antitesis adalah sebuah gaya bahasa
yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan, dengan mempergunakan kata-kata
atau kelompok kata yang berlawanan.
-
Repetisi
Repetisi adalah perulangan bunyi, suku
kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan
dalam sebuah konteks yang sesuai.
d.
Gaya bahasa berdassarkan langsung tidaknya
makna
-
Gaya bahasa retoris
·
Aliterasi
Aliterasi adalah semacam gaya bahasa
yang berwujud perulangan konsonan yang sama. Contoh: Takut titik
lalu tumpuk; Keras-keras kerah
kena air lembut juga.
·
Asonansi
Asonansi adalah semacam gayah bahasa
yang berwujud perulangan bunyi vokal yang sama. Contoh: Kura-kura dalam perahu,
pura-pura tidak tahu.
·
Anastrof
Anastrof atau inversi adalah semacam
gaya retoris yang diperoleh dengan pembalikan susunan kata yang biasa dalam
kalimat.
Contoh:
Pergilah ia meninggalkan kami, keheranan kami
melihat perangainya.
Bersorak-sorak orang di tepi jalan memukul
bermacam-macam bunyi-bunyian melalui gerbang dihiasi bungan dan panji berkibar.
·
Apofasis atau Preterisio
Apofasis atau disebut juga preterisio merupakan sebuah gaya dimana
penulis atau pengarang menegaskan sesuatu, tetapi tampaknya mengangkal. Misalnya:
Saya tidak mau mengungkapkan dalam forum
ini bahwa Saudara telah menggelapkan ratusan juta rupiah uang negara.
·
Apostrof
Apostrof adalah gaya yang berbentuk pengalihan amanat dari para
haridi kepada sesuatu yang tidak hadir. Misalnya: Hai kamu dewa-dewa yang berada di surga, datanglah dan bebaskanlah kami
dari belenggu penindasan ini.
·
Elipsis
Elipsis adalah suatu gaya yang
berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang mudah dapat diiisi atau
ditafsirkan sendiri oleh pembaca oleh pendengar, sehingga struktur dramatikal
atau kalimatnya memenuhi pola yang berlaku. Misalnya: Masihkah kau tidak percaya bahwa
dari segi fisik engkau tak apa-apa, badanmu sehat: tetapi psikis....
·
Litotes
Litotes adalah semacam gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan
sesuatu dengan tujuan merendahkan diri. Misalnya: saya tidak akan memrasa bahagia bila mendapatkan warisan 1 milyar
rupiah
·
Pleonasme atau Tautologi
Pleonasme adalah acuan yang mempergunakan kata-kata lebih banyak
dari pada yang diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau gagasan. Misalnya:
Ia tiba jam 20.00 malam waktu setempat;
Globe itu bundar bentuknya.
·
Hiperbola
Hiperbola adalah semacam gaya bahasa yang mengandung suatu
pernyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal. Misalnya: Kemarahanku sudah menjadi-jadi hingga
hampir-hampir meledak aku; Jika kau terlambat sedikit saja, pasti kau tidak
akan diterima lagi.
·
Paradoks
Paradoks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung pertentangan
yang nyata dengan fakta-fakta yang ada. Paradoks juga berarti semua hal yang
menarik perhatian karena kebenarannya. Misalnya: Musuh sering merupakan kawan yang akrab; Ia mati kelaparan di
tengah-tengah kekayaannya yang berlimpah-limpah.
-
Gaya bahasa kiasan
·
Persamaan atau Simile
Persamaan atau simile adalah perbandirigan yang bersifat eksplisit. Yang dimaksud dengan perbandingan yang bersifat eksplisit ialah bahwa ia langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain. Untuk itu, ia memerlukan upaya yang secara eksplisit menunjukkan kesamaan itu, yaitu kata-kata: seperti, sama, sebagai, bagaikan, laksana, dan sebagainya.
Kikimya seperti kepiting batu
Bibirya seperti delima merekah
Matanya seperti bintang timur
·
Metafora
Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat: bunga bangsa, buaya darat, buah hati, cindera mata, dan sebagainya.
Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat: bunga bangsa, buaya darat, buah hati, cindera mata, dan sebagainya.
Metafora sebagai perbandingan langsung tidak mempergunakan kata:
seperti, bak, bagai, bagaikan, dan sebagainya, sehingga pokok pertama langsung
dihubungkan dengan pokok kedua. Proses terjadinya sebenanya sama dengan simile
tetapi secara berangsur-angsur keterangan mengenai persamaan dan pokok pertama
dihilangkan,
misalnya:
Pemuda adalah seperti bunga bangsa. —> Pemuda adalah bunga
bangsa, Pemuda —> Bunga bangsa
Orang itu seperti buaya darat. —* Orang itu adalah buaya darat.
Orang itu —> buaya darat.
Pemuda adalah seperti bunga bangsa. —> Pemuda adalah bunga
bangsa, Pemuda —> Bunga bangsa
Orang itu seperti buaya darat. —* Orang itu adalah buaya darat.
Orang itu —> buaya darat.
·
Alegori, Parabel, dan Fabel
Alegori adalah suatu cerita singkat yang mengandung kiasan. Makna kiasan ini harus ditarik dari bawah permukaan ceritanya. Dalam alegori, nama-nama pelakunya adalah sifat-sifàt yang abstrak, serta tujuannya selalu jelas tersurat.
Parabel (parabola) adalah suatu kisah singkat dengan tokoh-tokoh
biasanya manusia, yang selalu mengandung tema moral. lstilah parabel dipakai
untuk menyebut cerita-cerita fiktif di dalam Kitab Suci yang bersifat alegoris,
untuk menyampaikan suatu kebenaran moral atau kebenaran spiritual.
Fabel adalah suatu metafora
berbentuk cerita mengenai dunia binatang, di mana binatang-binatang bahkan
makhluk-makhluk yang tidak bemyawa bertindak seolah-olah sebagai manusia.
Tujuan fabel seperti parabel ialah menyampaikan ajaran moral atau budi pekerti.
Fabel menyampaikan suatu prinsip tingkah laku melalui analogi yang transparan
dan tindak-tanduk binatang, tumbuh-tumbuhan, atau makhluk yang tak bernyawa.
·
Personifikasi atau
Prosopopoeia
Personifikasi atau prosopopoeia adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan. Personifikasi (penginsanan) merupakan suatu corak khusus dan metafora, yang mengiaskan benda-benda mati bertindak, berbuat, berbicara seperti manusia.
Angin yang meraung di tengah malam yang gelap itu menambah lagi ketakutan kami.
Matahari baru saja kembali ke peraduannya, ketika kami tiba di sana. Kulihat ada bulan di kotamu lalu turun di bawah pohon belimbing depan rumahmu barangkali ia menyeka mimpimu.
·
Ironi, Sinisme, dan Sarkasme
Ironi diturunkan dan kata eironeia yang berarti penipuan atau pura-pura. Sebagai bahasa kiasan, ironi atau sindiran adalah suatu acuan yang ingin mengatakan sesuatu dengan makna atau maksud berlainan dan apa yang terkandung dalam rangkaian kata-katanya. Ironi merupakan suatu upaya literer yang efektif karena ia menyampaikan impresi yang mengandung pengekangan yang besar. Entah dengan sengaja atau tidak, rangkaian kata-kata yang dipergunakan itu mengingkari maksud yang sebenarnya. Sebab itu, ironi akan berhasil kalau pendengar juga sadar akan maksud yang disembunyikan di balik rangkaian kata-katanya.
Ironi diturunkan dan kata eironeia yang berarti penipuan atau pura-pura. Sebagai bahasa kiasan, ironi atau sindiran adalah suatu acuan yang ingin mengatakan sesuatu dengan makna atau maksud berlainan dan apa yang terkandung dalam rangkaian kata-katanya. Ironi merupakan suatu upaya literer yang efektif karena ia menyampaikan impresi yang mengandung pengekangan yang besar. Entah dengan sengaja atau tidak, rangkaian kata-kata yang dipergunakan itu mengingkari maksud yang sebenarnya. Sebab itu, ironi akan berhasil kalau pendengar juga sadar akan maksud yang disembunyikan di balik rangkaian kata-katanya.
Misalnya:
Tidak diragukan lagi bahwa Andalah orangnya, sehingga semua kebijaksanaan terdahulu harus dibatalkan seluruhnya!
Saya tahu Anda adalah seorang gadis yang paling cantik di dunia ini yang penlu mendapat tempat terhormat!
Tidak diragukan lagi bahwa Andalah orangnya, sehingga semua kebijaksanaan terdahulu harus dibatalkan seluruhnya!
Saya tahu Anda adalah seorang gadis yang paling cantik di dunia ini yang penlu mendapat tempat terhormat!
Sinisme diartikan
sebagai suatu sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan
terhadap keikhlasan dan ketulusan hati. Walaupun sinisme dianggap lebih keras
dan ironi, namun kadang-kadang masih sukar diadakan perbedaan antara keduanya.
Bila contoh mengenai ironi di atas diubah, maka akan dijumpai gaya yang lebih
bersifat sinis.
Tidak diragukan lagi bahwa Andalah orangnya, sehingga semua kebjaksanaan akan lenyap bersamamu!
Memang Anda adalah seorang gadis paling tercantik di seantero jagad ini yang mampu menghancurkan seluruh isi jagat ini.
Dengan kata
lain, sinisme adalah ironi yang lebih kasar sifatnya.
Sarkasme merupakan suatu acuan yang lebih kasar dan ironi dan sinisme. Ia adalah suatu acuan yang mengandung kepahitan dan celaan yang getir.
Sarkasme merupakan suatu acuan yang lebih kasar dan ironi dan sinisme. Ia adalah suatu acuan yang mengandung kepahitan dan celaan yang getir.
Sarkasme
dapat saja bersifat ironis, dapat juga tidak, tetapi yang jelas adalah bahwa
gaya ini selalu akan menyakiti hati dan kurang enak didengar. Kata sarkasme
diturunkan dan kata Yunanj sarkasmos, yang lebih jauh diturunkan dan kata kerja
sakasein yang berarti “merobek-robek daging seperti anjing”, “menggigit bibir
karena marah”, atau “berbicara dengan kepahitan”.
Mulutkau harimau kau.
Lihat sang Raksasa itu (maksudnya si Eebol).
Kelakuanmu memuakkan saja.
·
Satire
Ironi sering kali tidak harus ditafsirkan dari sebuah kalimat atau acuan, tetapi harus diturunkan dari suatu uraian yang panjang. Dalam hal terakhir ini, pembaca yang tidak kritis atau yang sederhana pengetahuannya, bisa sampai kepada kesimpulan yang diametral bertentangan dengan apa yang dimaksudkan penulis, atau berbeda dengan apa yang dapat ditangkap oleh pembaca kritis. Untuk memahami apakah bacaan bersifat ironis atau tidak, pembaca atau pendengar harus mencoba meresapi implikasi-implikasi yang tersirat dalam baris-baris atau nada-nada suara, bukan hanya pada peryataan yang eksplisit itu. Pembaca harus berhati-hati menelusuri batas antara perasaan dan kegamblangan arti harfiahnya.
Ironi sering kali tidak harus ditafsirkan dari sebuah kalimat atau acuan, tetapi harus diturunkan dari suatu uraian yang panjang. Dalam hal terakhir ini, pembaca yang tidak kritis atau yang sederhana pengetahuannya, bisa sampai kepada kesimpulan yang diametral bertentangan dengan apa yang dimaksudkan penulis, atau berbeda dengan apa yang dapat ditangkap oleh pembaca kritis. Untuk memahami apakah bacaan bersifat ironis atau tidak, pembaca atau pendengar harus mencoba meresapi implikasi-implikasi yang tersirat dalam baris-baris atau nada-nada suara, bukan hanya pada peryataan yang eksplisit itu. Pembaca harus berhati-hati menelusuri batas antara perasaan dan kegamblangan arti harfiahnya.